Saturday, January 21, 2017

IVF (FET): Konsultasi ke-1 (h+3)

Kamis (19 Jan) istri haid, siklusnya 41 hari dari haid sebelumnya, menurut dr. Gita ini masih normal mengingat haid terakhir istri akibat keguguran.

Kami berencana untuk kembali IVF dengan frozen embryo transfer (FET). Sabtu pagi (21 Jan), haid hari ke-3, kami kontrol ke dr. Gita. Saat di-USG terlihat beberapa ovum berukuran kecil, tipikal kasus PCO pada umumnya.

Dr. Gita menyarankan bila istri ingin mencoba cara alami (natural FET) maka akan diberikan obat Femara yang berguna untuk mematangkan sel telur ke ukuran yang normal, lalu setelah terjadi ovulasi akan dilakukan embryo transfer. Namun dulu kami sudah pernah diterapi obat ini waktu masih konsultasi dengan dr. Caroline dan hasilnya sel telur istri tidak bisa membesar.

Karena tidak memilih cara natural FET maka kami ditawarkan alternatif lain melalui cara medicated FET dengan menggunakan obat Progynova. Jadi tidak perlu sel telurnya yang dibesarkan dan tidak perlu terjadi ovulasi, namun yang disiapkan adalah ketebalan dinding rahim dimana saat USG di h+12 nanti tebalnya minimal sudah mencapai 8 mm.

Istri diresepkan obat Progynova dengan dosis yang terus ditingkatkan setiap 3 hari, yaitu:
h+3 s/d h+5 minum 2 tablet/hari
h+6 s/d h+8 minum 3 tablet/hari
h+9 s/d h+11 minum 4 tablet/hari 

Istri diminta datang kontrol lagi Senin 30 Jan (h+12) untuk di-USG ketebalan dinding rahimnya.
kuitansi Klinik Yasmin (21 Jan)
Total investasi = Rp 682,717
Progynova 2 mg (30 tablet) = Rp 197,717
Jasa rumah sakit cluster = Rp 100,000
Konsultasi dr. Gita Pratama = Rp 250,000

USG 2D tanpa print = Rp 135,000

Saturday, January 7, 2017

Endometrial Scratching sebelum FET

Sabtu siang (7 Jan) jam 11 kami tiba di Klinik Yasmin, dr. Gita hari ini akan melakukan tindakan Endometrial Scratching (ES) untuk memperbesar kemungkinan penempelan embrio di rahim istri saat tindakan Frozen Embryo Transfer (FET) di siklus istri berikutnya.

Tindakan ES ini dilakukan paling tidak seminggu sebelum istri haid. Prosesnya berjalan sekitar 15 menit, dokter agak kesusahan karena posisi rahim istri yang agak ke belakang. Saya ikut menemani dan menenangkan istri karena prosesnya membuat perut agak nyeri. Dokter menjelaskan bahwa manfaat tindakan ES ini dapat bertahan sekitar 3 bulan.

Setelahnya istri diresepkan obat antibiotik untuk diminum 3x sehari selama 3 hari. Bila nyeri masih berlanjut boleh minum obat Ponstan atau Paracetamol. Namun alhamdulillah istri tidak merasakan nyeri dan langsung dapat berjalan seperti biasa serta beraktivitas normal lagi.

Istri disarankan untuk datang saat haid hari ke-2 atau ke-3 untuk dilakukan USG dan ditentukan pengobatan apa yang cocok untuk tindakan FET nanti. Sebab rahim istri harus dikondisikan supaya ada telur yang matang setidaknya 1 saja agar tingkat keberhasilan FET semakin tinggi.
kuitansi Klinik Yasmin (7 Jan)
Total investasi = Rp 1,255,870 
Clindamycin Capsule 300 mg (10 buah) = Rp 15,562
Jasa rumah sakit cluster = Rp 100,000
Konsultasi dr. Gita Pratama = Rp 250,000
Mikro kuret = Rp 540,000
Sonde intrauterine = 334,746
Sarung tangan Gamex = 15,562 

Tuesday, January 3, 2017

Pemeriksaan laboratorium hormonal untuk IVF

Sembari menunggu jadwal istri untuk frozen embryo transfer (FET) di siklus berikutnya yang insya Allah di bulan Januari 2017 ini, saya akan sedikit bercerita tentang tes lab yang telah dijalani istri saat konsultasi IVF hingga sebelum OPU dilakukan.

Hasil lab inilah yang digunakan dokter untuk menentukan jenis dan dosis obat yang akan diberikan ke istri supaya bisa mematangkan sel telur dengan jumlah yang banyak dan berkualitas.

LH (Luteinizing hormone): pada hari ke-3 haid, nilai normal LH antara 3-10 mIU/mL. Kadar LH & FSH kurang lebih sama.

FSH (Follicle stimulating hormone): kadar FSH antara 3-10 mIU/mL pada hari ke-3 haid menunjukkan kualitas sel telur yang baik dan angka keberhasilan tinggi. Bila FSH di kisaran 12-15 mIU/mL menunjukkan kualitas sel telur yang rendah dan keberhasilan juga rendah.

Selain itu bila nilainya rendah (antara 3-10 mIU/mL) maka cadangan sel telur di ovarium masih mencukupi. Bila terdapat peningkatan kadar FSH berarti jumlah sel telur yang berada di ovarium berkurang, jika kadarnya sangat tinggi dan berada dalam batas menopause menunjukkan bahwa tidak ada lagi sel telur yang tertinggal di ovarium untuk menjadi matang.

Estradiol: pada hari ke-3 haid, kadar normalnya sekitar 50 pg/mL atau lebih rendah, bila kadarnya di atas 75 pg/mL akan memberi respon yang rendah pada pengobatan. Dalam siklus normal, kadar Estradiol yang awalnya rendah akan meningkat secara bertahap sampai folikel matang.

Kadarnya selalu dipantau sepanjang pengobatan, bila kadarnya tidak mengalami peningkatan maka pengobatan tidak dilanjutkan. Nilainya harus naik bertahap untuk membuktikan bahwa tubuh merespon Gonal-f dan stimulasi terhadap indung telur diterima dengan baik. 

Prolaktin: kadar normalnya kurang dari 20 ng/mL, peningkatan kadar Prolaktin dapat mengganggu penebalan lapisan bagian dalam rahim.

hasil tes lab istri selama proses stimulasi ovarium
Percobaan IVF pertama kami di bulan Agustus harus berhenti di tengah jalan karena ukuran ovum saat di-USG hari ke-6 haid tidak mencapai ukuran standar sehingga tidak akan optimal bila dilanjutkan.

Dari hasil tes lab Estradiol di hari ke-6 haid terlihat bahwa di IVF pertama nilainya yang hanya 57,01 jauh lebih rendah dibanding IVF kedua kami yaitu 753,8.

Sedangkan percobaan IVF kedua kami di bulan Oktober akhirnya sukses hingga tahap OPU menghasilkan 13 sel telur. Lalu setelah dibuahi, yang berhasil menjadi embrio berkualitas baik ada 7.