Saturday, January 7, 2017

Endometrial Scratching sebelum FET

Sabtu siang (7 Jan) jam 11 kami tiba di Klinik Yasmin, dr. Gita hari ini akan melakukan tindakan Endometrial Scratching (ES) untuk memperbesar kemungkinan penempelan embrio di rahim istri saat tindakan Frozen Embryo Transfer (FET) di siklus istri berikutnya.

Tindakan ES ini dilakukan paling tidak seminggu sebelum istri haid. Prosesnya berjalan sekitar 15 menit, dokter agak kesusahan karena posisi rahim istri yang agak ke belakang. Saya ikut menemani dan menenangkan istri karena prosesnya membuat perut agak nyeri. Dokter menjelaskan bahwa manfaat tindakan ES ini dapat bertahan sekitar 3 bulan.

Setelahnya istri diresepkan obat antibiotik untuk diminum 3x sehari selama 3 hari. Bila nyeri masih berlanjut boleh minum obat Ponstan atau Paracetamol. Namun alhamdulillah istri tidak merasakan nyeri dan langsung dapat berjalan seperti biasa serta beraktivitas normal lagi.

Istri disarankan untuk datang saat haid hari ke-2 atau ke-3 untuk dilakukan USG dan ditentukan pengobatan apa yang cocok untuk tindakan FET nanti. Sebab rahim istri harus dikondisikan supaya ada telur yang matang setidaknya 1 saja agar tingkat keberhasilan FET semakin tinggi.
kuitansi Klinik Yasmin (7 Jan)
Total investasi = Rp 1,255,870 
Clindamycin Capsule 300 mg (10 buah) = Rp 15,562
Jasa rumah sakit cluster = Rp 100,000
Konsultasi dr. Gita Pratama = Rp 250,000
Mikro kuret = Rp 540,000
Sonde intrauterine = 334,746
Sarung tangan Gamex = 15,562 

Tuesday, January 3, 2017

Pemeriksaan laboratorium hormonal untuk IVF

Sembari menunggu jadwal istri untuk frozen embryo transfer (FET) di siklus berikutnya yang insya Allah di bulan Januari 2017 ini, saya akan sedikit bercerita tentang tes lab yang telah dijalani istri saat konsultasi IVF hingga sebelum OPU dilakukan.

Hasil lab inilah yang digunakan dokter untuk menentukan jenis dan dosis obat yang akan diberikan ke istri supaya bisa mematangkan sel telur dengan jumlah yang banyak dan berkualitas.

LH (Luteinizing hormone): pada hari ke-3 haid, nilai normal LH antara 3-10 mIU/mL. Kadar LH & FSH kurang lebih sama.

FSH (Follicle stimulating hormone): kadar FSH antara 3-10 mIU/mL pada hari ke-3 haid menunjukkan kualitas sel telur yang baik dan angka keberhasilan tinggi. Bila FSH di kisaran 12-15 mIU/mL menunjukkan kualitas sel telur yang rendah dan keberhasilan juga rendah.

Selain itu bila nilainya rendah (antara 3-10 mIU/mL) maka cadangan sel telur di ovarium masih mencukupi. Bila terdapat peningkatan kadar FSH berarti jumlah sel telur yang berada di ovarium berkurang, jika kadarnya sangat tinggi dan berada dalam batas menopause menunjukkan bahwa tidak ada lagi sel telur yang tertinggal di ovarium untuk menjadi matang.

Estradiol: pada hari ke-3 haid, kadar normalnya sekitar 50 pg/mL atau lebih rendah, bila kadarnya di atas 75 pg/mL akan memberi respon yang rendah pada pengobatan. Dalam siklus normal, kadar Estradiol yang awalnya rendah akan meningkat secara bertahap sampai folikel matang.

Kadarnya selalu dipantau sepanjang pengobatan, bila kadarnya tidak mengalami peningkatan maka pengobatan tidak dilanjutkan. Nilainya harus naik bertahap untuk membuktikan bahwa tubuh merespon Gonal-f dan stimulasi terhadap indung telur diterima dengan baik. 

Prolaktin: kadar normalnya kurang dari 20 ng/mL, peningkatan kadar Prolaktin dapat mengganggu penebalan lapisan bagian dalam rahim.

hasil tes lab istri selama proses stimulasi ovarium
Percobaan IVF pertama kami di bulan Agustus harus berhenti di tengah jalan karena ukuran ovum saat di-USG hari ke-6 haid tidak mencapai ukuran standar sehingga tidak akan optimal bila dilanjutkan.

Dari hasil tes lab Estradiol di hari ke-6 haid terlihat bahwa di IVF pertama nilainya yang hanya 57,01 jauh lebih rendah dibanding IVF kedua kami yaitu 753,8.

Sedangkan percobaan IVF kedua kami di bulan Oktober akhirnya sukses hingga tahap OPU menghasilkan 13 sel telur. Lalu setelah dibuahi, yang berhasil menjadi embrio berkualitas baik ada 7.

Saturday, December 24, 2016

Histeroskopi paska gagal IVF

Sabtu pagi (24 Des) kami telah tiba di Klinik Yasmin. Setengah jam sebelum tindakan histeroskopi, istri dipanggil suster ke dalam ruangan untuk dimasukkan obat (Tramadol HCl 100 mg) melalui anus untuk mengurangi rasa nyeri saat tindakan nanti.

Jam 10 istri dipanggil masuk ke dalam ruangan, saya baru boleh masuk sekitar 5 menit kemudian setelah alat teropongnya sudah dimasukkan. Sembari melihat ke layar komputer, dr. Gita menjalankan alat teropongnya sambil menerangkan kondisi di dalam rahim istri.

Hasilnya cukup bagus, tidak ditemukan masalah apa-apa, hanya ada polip berukuran kecil namun tidak akan berpengaruh besar saat nanti akan transfer embrio. Untuk mengobatinya dr. Gita hanya meresepkan obat antibiotik yang diminum sehari dua kali dan dihabiskan dalam waktu 2 minggu.

Karena kami ingin segera melakukan transfer embrio pada siklus berikutnya, jadi seminggu sebelum istri haid diminta datang kembali karena dr. Gita akan melakukan tindakan Endometrial Scratching, penjelasan sederhananya yaitu melakukan penggoresan pada dinding rahim untuk memperbesar kemungkinan embrio untuk menempel.

Setelah tindakan histeroskopi tadi, efek yang dirasakan istri agak mual, bahkan sampai muntah di mobil saat di perjalanan pulang, namun esoknya sudah mulai baikan.
kesimpulan histeroskopi
kuitansi Klinik Yasmin (24 Des)
Total investasi = Rp 2,329,680
Jasa rumah sakit cluster = Rp 100,000
Obat antibiotik Interdoxin 100 mg (30 kapsul) = Rp 229,680
Office Histeroskopi Diagnostik = Rp 2,000,000

Saturday, December 10, 2016

IVF: Janin lambat berkembang (h+48)

Dengan bersedih hati kami ikhlas menerima bahwa Allah belum menitipkan amanahnya saat ini.

Saat kontrol hari Sabtu pagi (10 Des), jam 10.30 tiba giliran kami dipanggil masuk ke ruangan, dr. Gita menanyakan perkembangan kehamilan istri. Sejak terakhir kontrol 30 Nov lalu istri masih mengalami flek, semalam agak lebih banyak sampai membuat istri susah tidur.

Saat di-USG dr. Gita, terlihat dua kantung janin namun ukurannya baru berkembang menjadi 0,56 cm saja sejak dari proses ET 3 minggu lebih yang lalu, isi janinnya pun belum terlihat. Beliau agak cemas saat melihat perkembangan yang lambat ini karena terakhir di-USG 30 Nov lalu ukurannya 0,45 cm. Istri diresepkan obat Duphaston dan Cygest saja, sementara Lovenox-nya stop dulu.

Kami diminta datang kontrol lagi besok Selasa (13 Des) untuk di-USG lagi dan tes lab Beta-HCG. Beliau tidak pesimis bilang bahwa kemungkinan janin ini tidak akan bertahan, namun beliau justru optimis mengingatkan kalau kami masih punya cadangan 5 embrio lagi. Sebenarnya dari kata-kata beliau kami sudah dapat menangkap maksudnya hanya saja mungkin beliau tidak ingin membuat kami down.

Karena menunggu hingga Selasa terlalu lama, kami ingin tes lab Beta-HCG hari ini saja. Kata dr. Gita bila normal maka nilai Beta-HCG istri hari ini seharusnya di kisaran 1500an. Jam 11 kami segera ke lab RSCM Kencana dan minta tolong agar hasilnya bisa jadi secepatnya supaya masih sempat konsultasi kembali dengan dr. Gita.

Jam 13 selepas makan siang kami segera menuju lab untuk mengambil hasilnya. Saya yang membuka amplop lab dengan sabar memberi tahu kalau hasil Beta-HCG istri sekarang nilainya 135,3. Sudah jauh menurun dibanding 30 Nov lalu yang masih 846,6.
hasil tes lab Beta-HCG (10 Des)
Kami segera bertemu lagi dengan dr. Gita, beliau sudah menduga hasilnya. Kemungkinan embrio kami kurang bagus kualitasnya, entah bisa dari kromosom suami, atau istri, atau bisa dari keduanya. Penjelasan dr. Gita sama seperti yang pernah Mbak Dini ceritakan, ini merupakan seleksi alam, embrio yang berkualitas kurang bagus akan luruh dengan sendirinya.

Kami penasaran apakah ini ada pengaruhnya dengan riwayat istri yang pernah kena TORCH, namun dr. Gita tidak mencemaskan hal itu karena hasil tes lab TORCH istri yang dulu pernah kami lakukan menunjukkan kalau istri sudah membentuk antibodi terhadap TORCH.

Kami ingin secepatnya IVF lagi, namun sebelumnya istri ingin menjalani Histeroskopi (teropong rahim) untuk mengetahui kondisi di dalam rahimnya. Kami disarankan datang minimal dua hari setelah istri selesai haid bila ingin dilakukan Histeroskopi.

Selesai konsultasi, kami janjian bertemu dengan Mbak Dini karena istri ingin curhat. Mbak Dini mengajak kami menuju ruang tunggu yang sepi dan seketika istri menangis saat bercerita. Namun Mbak Dini seperti biasa selalu memberikan semangat positif, setidaknya dapat mengurangi kesedihan hati kami.

Istri tidak jadi diresepkan obat sama sekali, diharapkan dalam beberapa hari istri akan haid, dr. Gita juga tidak meresepkan obat untuk mempercepat haid karena bila dibantu obat biasanya membuat lebih nyeri, lebih baik menunggu secara alami.

Benar saja, malamnya istri mulai haid walau masih sedikit, baru hari Minggu-nya (11 Des) haidnya mulai agak lancar. Bila sangat nyeri dibolehkan minum obat Ponstan, paling banyak dosisnya 3 tablet per hari. Selesai haidnya tanggal 19 Des, agak lebih lama dari biasanya.
kuitansi Klinik Yasmin (10 Des)
Total investasi = Rp 906,000
Jasa rumah sakit cluster = Rp 100,000
Konsultasi dr. Gita Pratama = Rp 250,000
USG 2D tanpa print = Rp 135,000

Tes Beta-HCG (kuantitatif) = Rp 421,000