Monday, April 18, 2016

Kontrol h+11 sebelum inseminasi

Senin 18 April 2016 istri haid (siklusnya 34 hari dari haid sebelumnya tanggal 16 Maret), perkiraan masa suburnya di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 28 April s/d 7 Mei.

Kali ini jaraknya tidak terlalu jauh (hanya 34 hari) dan sepertinya paska operasi LOD siklus haid istri ini sudah bisa dibilang normal kembali, mengacu pada informasi yang saya kutip berikut ini:

" siklus menstruasi dihitung dari hari pertama haid terakhir hingga hari pertama haid berikutnya, di wanita normal pada umumnya memiliki siklus 21-35 hari dan menstruasi berlangsung selama 2-7 hari "

Istri mulai mengonsumsi obat untuk memicu pematangan sel telur dengan jadwal berikut:
[h+3] minum Genoclom 3x sehari (selama 5 hari)
[h+6] suntik Gonal-f 75 IU per hari (total 300 IU selama 4 hari)

Di h+11, kamis malam (28 April) kami menemui dr. Caroline, saat di-USG terlihat sel telurnya masih belum terlalu bereaksi terhadap obat tersebut. Hanya terdapat 3 telur yang bisa dikatakan matang dengan ukuran sekitar 12 s/d 13 mm. Seharusnya di h+11 ini ukuran standarnya 18 s/d 19 mm.

Kami diminta datang kontrol kembali di h+15 untuk melihat perkembangan lanjutannya.

Total investasi = Rp 565,300
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000
USG transvaginal tanpa print = Rp 179,000
Disposible USG = Rp 1,300

Tuesday, April 5, 2016

Rencana inseminasi kembali

Selasa malam (5 April) kami kontrol untuk mengecek kondisi jahitan istri, plester anti airnya dilepas dan tidak ada rembesan cairan yang menandakan kalau proses pengeringan lukanya sudah pulih.

Kami mendiskusikan rencana program hamil dengan cara inseminasi, dr. Caroline meresepkan istri obat Genoclom 50 mg sebanyak 15 tablet yang bisa diperoleh di apotek Omni, dan obat yang bisa dibeli di apotek luar dengan temannya yang menjadi distributor obat yaitu Gonal-f (Pen) 300 IU dan Ovidrel 250 mcg.

Setelah memasuki haid hari ke-10 atau ke-11 (h+10/h+11) datang kontrol lagi untuk di USG apakah ukuran sel telurnya memungkinkan untuk proses insem. Bila jadi insem maka ini merupakan inseminasi ketiga kami.

Total investasi = Rp 3,574,950
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000
Penjualan resep farmasi rawat jalan (15 tablet Genoclom 50 mg) = Rp 235,950
 

Biaya di luar rumah sakit:
1 buah Ovidrel 250 mcg = Rp 675,000
1 buah Gonal-f (Pen) 300 IU = Rp 2,275,000
8 buah alcohol swab @ Rp 500 = Rp 4,000

Friday, April 1, 2016

Benarkah mitos wanita penyayang kucing jadi sulit hamil?

Saya dan istri sama-sama menyukai kucing, namun istri jauh lebih sayang daripada saya, bila dia melihat kucing kecil atau kucing yang sedang sakit di jalan akan timbul rasa ibanya seperti memberikannya makan atau dibawa pulang untuk diadopsi.

Kucing kami di rumah Bekasi yang dulu awalnya hanya satu ekor kucing betina, kini sudah berjumlah sepuluh lebih. Sedangkan kucing kami di rumah Meruya ada empat ekor kucing kecil jantan yang kami taruh di halaman belakang rumah, selain itu ada juga kucing liar yang suka datang di halaman depan rumah karena istri selalu memberi mereka makan sehingga banyak kucing baru yang berdatangan.

Apa pendapat orang tua kami
Mama mertua yang tinggal di Bekasi sudah lama mengeluhkan jumlah kucing yang sudah terlalu banyak, halaman rumah juga jadi bau karena sisa makanan dan kotoran mereka. Tidak jauh beda dengan keluhan Papi saya di Meruya dengan kehadiran 4 ekor kucing kecil yang ada di halaman belakang rumah.

Ketidaksukaan mereka dikaitkan dengan sulitnya istri untuk hamil karena mereka menganggap virus toksoplasma yang asalnya bisa dari kucing merupakan salah satu penyebabnya. Padahal sebenarnya virus itu juga bisa berasal dari konsumsi makanan yang tidak matang sempurna, atau sayuran mentah yang kurang bersih saat dicuci. Selain itu virus toksoplasma bukan penyebab sulitnya hamil, namun akibatnya lebih ke janin di dalam kandungan yang mana bila nanti lahir akan mengalami cacat bawaan.

Apa pendapat dokter kandungan
Karena alasan itulah mereka meminta kami untuk membuang semua kucing-kucing tersebut. Istri tambah stres setiap kali didesak soal itu. Akhirnya kami berkonsultasi ke dr. Caroline, beliau menjelaskan bila kucing kami dijaga kebersihannya seperti rajin dimandikan dan dikasih makanan yang matang serta kotorannya dibuang pada tempatnya, maka kecil kemungkinan bagi kucing tersebut untuk mengidap virus toksoplasma.

Untuk lebih meyakinkan dan sebagai persiapan sebelum program kehamilan, dokter menyarankan istri untuk tes TORCH. Kami datang ke lab Pramita cabang Kebon Jeruk pada Senin pagi (4 April), dari hasil tes tersebut alhamdulillah ternyata semua hasilnya NEGATIF yang artinya istri terbebas dari segala penyakit Toksoplasma, Rubella, CMV, HSV1, dan HSV2.

Berikut ini hasil tes TORCH istri dan biayanya.
hasil tes TORCH
biaya tes TORCH
Saat istri menjelaskan hasilnya, Papi banyak bertanya tentang beberapa poin IgG yang positif, ini menerangkan bahwa dulu istri pernah terkena virus tersebut namun seiring waktu tubuh istri telah membentuk antibodinya sendiri untuk melawan virus tersebut, terlihat dari poin IgM yang semuanya negatif.

Dokter pun menyarankan bila memang dengan memelihara kucing dapat mempengaruhi psikologis istri menjadi lebih baik maka dapat diteruskan, istri tentu senang sekali mendengarnya.

Apa pendapat dokter hewan
Beberapa hari setelahnya, kucing kami ada yang sakit jadi kami bawa ke dokter hewan langganan kami, drh. Perdanawinata, kliniknya yang berada di jalan Kembang Kerep tersebut hanya melayani pasien kucing saja. Di klinik tersebut kami curhat seputar masalah tokso dengan problem kehamilan.

Dengan masa kerja 20 tahun lebih, beliau tentunya mempunyai banyak cerita seputar pemilik kucing yang menjadi pasiennya. Salah satu yang menarik adalah cerita tentang sepasang suami istri yang sudah 7 tahun menikah namun belum punya keturunan, mereka tinggal dengan beberapa ekor kucing jauh sebelum awal menikah, kondisi kesehatan mereka pun baik, kasusnya sama seperti kami.

Singkat cerita, ibu mertua suami tersebut berniat untuk menjauhkan mereka dan kucing-kucingnya sementara dengan cara dititipkan di rumah ibu tersebut. Awalnya sang istri merasa keberatan dan sangat kesepian terutama di awal 3 bulan pertama. Namun akhirnya istri tersebut ikhlas harus berpisah sementara dengan kucing kesayangannya.

Keajaiban pun terjadi, di bulan ke 4 sang istri telat haid dan cek ke dokter kandungan, hasilnya sang istri POSITIF hamil. Betapa bahagianya mereka, kini mereka boleh kembali memelihara kucing di rumahnya sembari menemani kehamilan sang istri. Kami turut terharu bercampur bahagia mendengarnya.

Dokter kembali menceritakan kisah lain temannya yang seorang paranormal, dia menjelaskan bila kucing dipotret auranya akan terlihat memiliki keunikan tersendiri. Kucing mampu menyerap energi positif pemiliknya, rasa sayang kita yang terlalu berlebihan terhadap kucing jadi tidak tersisa terhadap kebutuhan rasa sayang kita untuk memiliki seorang bayi. Hal ini sama seperti yang dirasakan istri, dia sangat sayang sekali dengan kucing-kucingnya, sampai selalu kepikiran misalnya saat mereka lagi sakit atau saat tidak ada yang memberi makan bila kami sedang pergi jauh.

Penampilan kucing di film pun sering dikaitkan sebagai hewan kesayangan penyihir karena sifatnya yang misterius dan dingin, terutama kucing yang berbulu hitam.

Dari pengalamannya menjadi dokter hewan, beliau menjelaskan bahwa kucing merupakan hewan yang selalu ingin diperhatikan. Kucing merupakan hewan yang lebih loyal terhadap lokasi daripada terhadap tuannya, misalkan kucing diajak jalan-jalan ke tempat baru dan ramai maka mereka akan ketakutan dan bersembunyi, tidak peduli lagi akan kehadiran tuannya. Berbeda dengan anjing yang suka di ajak jalan-jalan, walaupun di lepas jauh di keramaian namun kalau di panggil maka dia akan datang kembali pada tuannya.

Ada beberapa pasiennya yang kucingnya sehat dan terbebas dari tokso namun justru saat pemiliknya dites malah terkena tokso, jadi kucing bukanlah penyebab utamanya penyebaran virus ini. Dokter sendiri mengaku kalau dia juga mengidap tokso namun tubuhnya telah membentuk kekebalan sendiri.

Apa pendapat kami
Mendengar cerita dan masukan dari berbagai pihak tidak serta-merta membuat kami ingin menelantarkan kucing kami. Untuk sementara waktu istri akan berusaha program hamil sambil memelihara kucing namun tetap mengutamakan kebersihan. Kami juga sudah memvaksinasi beberapa kucing kami di Meruya.

Bila sampai beberapa waktu lamanya istri belum kunjung hamil juga, maka terpaksa kami harus berpisah sementara dengan kucing kami. Kami masih mencari tempat adopsi hewan yang layak untuk mereka.

Kami menyarankan bagi kalian yang memelihara kucing maupun hewan lainnya, utamakanlah kebersihan, jagalah kesehatan hewan dengan rutin membawanya ke dokter hewan bila sakit atau untuk divaksin demi kesehatan mereka dan kita juga.

Total investasi = Rp 2,935,000
Biaya tes lab TORCH di Pramita = Rp 2,935,000

Tuesday, March 29, 2016

Kontrol pertama paska LOD

Sore ini kami datang kontrol ke Omni Pulomas untuk melihat kondisi jahitan istri paska operasi seminggu lalu. Dr. Caroline membuka plester transparan di 3 titik bekas lubang operasi untuk melihat hasil jahitan, tidak ada cairan yang keluar menandakan hasilnya sudah bagus, setelah itu ditutup lagi dengan plester anti air yang baru.

Lalu dicek USG untuk melihat apakah ginjalnya terpengaruh akibat operasi kemarin, hasilnya alhamdulillah normal. Istri diresepkan obat Sharox 500 mg untuk dikonsumsi 3x sehari selama 5 hari ke depan.

Istri menanyakan apakah dia harus menggunakan obat suntik hormon supaya hasil pembersihan kista saat operasi kemarin jadi makin optimal. Dr. Caroline menjelaskan, obat terapi hormon untuk kanker tersebut harus dikonsumsi selama 3 bulan sehingga program hamil istri akan tertunda. Positifnya: perkembangan kista akan lebih lambat, negatifnya: menggunakan atau tidak obat tersebut, kista pasti akan ada lagi.

Namun dr. Caroline tetap meresepkan obat Divalin, dan meminta kami mempertimbangkan pilihan tersebut. Bila jadi menggunakan Divalin maka akan disuntikkan ke istri saat kami datang kontrol seminggu lagi.

Saya dan istri browsing di internet, baca pengalaman bunda yang menggunakan obat terapi hormon tersebut, ada yang tiga bulan setelah stop obatnya namun masih belum haid juga. Akhirnya kami memutuskan tidak jadi pakai obat tersebut dan memilih untuk langsung program hamil.

Total investasi = Rp 1,158,703
Biaya di rumah sakit:
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 400,000
USG transvaginal tanpa print = Rp 179,000
WT sederhana = Rp 70,000
Disposible USG = Rp 1,300
Penjualan resep farmasi rawat jalan (15 tablet Sharox 500 mg) = Rp 473,403

Thursday, March 24, 2016

Akhirnya istri menjalani Laparascopic Ovarian Drilling

Akhirnya penantian hari ini pun tiba saat kami telah siap untuk melakukan Laparascopic Ovarian Drilling (LOD) untuk mengatasi masalah Polycystic Ovarian Syndrom (PCO) yang dialami istri.

Selasa pagi (22 Maret) kami sudah tiba di RS Omni Pulomas, sehari sebelumnya sudah booking kamar kelas VIP. Sekitar setengah jam kami mengurus administrasi rawat inap dan setelah pihak RS menghubungi asuransi S*******, akhirnya kami diperbolehkan check-in.

Suster mengantar kami menuju lantai 5 ke kamar Gardenia nomor 5830. Tidak lama menunggu, dr. Caroline visit ke ruangan dan melihat hasil lab Pramita, semuanya normal hanya saja Hemoglobin angkanya 10,8 di bawah standar 11,5, namun masih tidak mengapa untuk operasi besok. Nilai CA-125 sebesar 42 (normalnya kurang dari 35) dan AMH sebesar 6,94 menunjukkan bahwa istri memang mengidap PCO dan terdapat endometriosis.

Operasi dijadwalkan esok hari (23 Maret) jam 7 pagi. Seharian ini istri hanya beristirahat untuk diobservasi. Malam harinya datang berkunjung dokter anestesi untuk menjelaskan prosedur bius total yang akan dijalani besok.

Hari ini istri minum obat Gastrul 200 mcg sebanyak 2 tablet yang diminum jam 7 pagi dan 7 malam sehari sebelum operasi nanti untuk membersihkan isi dalam kandungan supaya memudahkan proses operasi. Mulai jam 23.00 istri sudah mulai puasa makan dan hanya boleh minum air putih. Malam hari ini istri dapat tertidur nyenyak ditemani saya dan Mamanya yang sengaja cuti kantor selama tiga hari.

Esoknya (Rabu 23 Maret) selepas Subuh, istri sudah mandi dan suster siap membawa menuju ruang operasi di lantai dasar. Jam 7 pagi sudah mulai masuk ruang operasi. Saya dan Mama menunggu di ruang tunggu.

Saat operasi, perut istri dilubangi di 3 titik sebesar hanya 1 cm yaitu di perut bagian kanan & kiri serta di tengah pusar. Setelah itu dijahit dan ditutupi plester transparan.

Sekitar 1,5 jam kemudian saya dipanggil untuk menemui dr. Caroline di ruang operasi, deg-degan rasanya jantung ini saat saya menuju ke sana, namun alhamdulillah dr. Caroline membawa kabar gembira kalau operasi telah selesai sesuai rencana, saya diperlihatkan foto hasil operasi.
foto saat operasi laparaskopi (lembar ke 1)
foto saat operasi laparaskopi (lembar ke 2)
Di foto tersebut terlihat endometriosis yang seperti urat berwarna kemerahan, lalu ada foto saat cairan coklat kehitaman sedang di sedot, lalu foto saat ovarium istri yang berwarna putih sedang di-drilling, dan foto terakhir kondisi reproduksi istri yang sudah bersih.

Saya dan Mama diperbolehkan kembali ke kamar, sementara istri masih harus menunggu sejam untuk diobservasi dan pemulihan. Setelah menunggu sekitar sejam, akhirnya istri diantar ke kamar jam 10 dengan kondisi masih ngantuk berat akibat pengaruh obat bius yang belum hilang sepenuhnya.

Malamnya dr. Caroline kembali visit ke kamar untuk menjelaskan hasil operasi, beliau menyarankan agar kami segera program hamil karena kondisi PCO ini suatu saat pasti akan datang kembali, dan operasi LOD hanya bisa dilakukan sekali saja.

Istri masih harus istirahat semalam untuk diobservasi. Esok harinya (Kamis 24 Maret) jam 7 pagi istri diambil darahnya untuk tes Hemoglobin, hasilnya 10,5 masih di bawah standar 12 jadi istri diresepkan obat untuk dikonsumsi di rumah.
hasil tes Hemoglobin
Dr. Caroline kembali visit jam 10 pagi dan mengizinkan istri pulang karena melihat kondisi istri yang sudah membaik, selanjutnya hanya perlu kontrol rawat jalan seminggu lagi. Pihak RS mengurus administrasi yang terkait dengan asuransi, sekitar dua jam lamanya hingga akhirnya kami diperbolehkan pulang.

Saya tidak keluar uang sepeser pun karena semua biayanya telah ditanggung asuransi, namun nanti akan tetap ada kelebihan biaya karena saya mengambil kamar kelas VIP yang di atas plafon dan akan diinfokan setelah tagihannya selesai diproses, saya hanya perlu mengganti biaya tersebut ke pihak kantor.

Update 5 April 2016
Saat kami datang kontrol, dr. Caroline memberikan surat hasil analisa patologi anatomi dari operasi kemarin. Kesimpulannya, hispatologis mengesankan kista simple ovarium namun dr. Caroline menolak hasil tersebut karena apa yang dia lihat saat operasi bukan merupakan kista simple, perbedaan ini kemungkinan terjadi karena sampel yang diambil kurang banyak sehingga dokter pemeriksa patologi menyimpulkan kista simple.

hasil lab patologi anatomi
Update 19 April 2016
Biaya operasi telah dikirim pihak asuransi ke kantor saya hari Selasa 19 April, setelah hampir sebulan saya menunggu kabarnya. Total tagihannya sebesar Rp 60,9 juta, yang dicover asuransi Rp 38,7 juta, dan yang harus saya lunasi sebesar Rp 22,2 juta. Pihak kantor bisa memberi keringanan untuk melunasinya dengan cicilan yang dipotong gaji bulanan dengan jangka waktu pelunasan maksimal selama 24 bulan.

Total investasi = Rp 22,147,298

Thursday, March 17, 2016

Kontrol ke Omni untuk rencana Laparascopy

Rabu 16 Maret 2016 istri haid (siklusnya 38 hari dari haid sebelumnya tanggal 8 Februari). Kini kami sudah siap melanjutkan rencana Laparascopy istri terutama dari segi finansial. Esoknya kami datang kontrol ke Omni Pulomas bertemu dengan dr. Caroline saat istri haid hari kedua (Kamis 17 Maret).

Kami rencana menggunakan asuransi dari kantor saya yaitu S*******, dr. Caroline menjelaskan kalau untuk operasi kesuburan sulit untuk mendapat penggantian. Namun untuk kasus penyakit lain masih mungkin dicover. Dari kontrol yang sebelum-sebelumnya istri sempat didiagnosa ada endometriosis, jadi dokter kembali melakukan USG dan bila terlihat bisa dijadikan diagnosa untuk operasi. Dari hasil USG, dokter menemukan adanya Polip endometrium sehingga dari hasil scan USG tersebut bisa dijadikan diagnosa buat klaim asuransi.
hasil USG polip endometrium
Istri dijadwalkan untuk operasi pada Rabu (23 Maret), sehari sebelumnya (Selasa 22 Maret) istri sudah harus check-in untuk persiapan operasi karena akan diobservasi terlebih dahulu, sehari setelah operasi (Kamis 24 Maret) direncanakan istri sudah boleh pulang. 

Istri diresepkan obat Gastrul 200 mcg sebanyak 2 tablet yang diminum jam 7 pagi dan 7 malam sehari sebelum operasi nanti. 

Untuk mengecek kondisi tubuh sebelum operasi, istri diminta tes lab ke Pramita. Kami mendatangi lab Pramita di Matraman pada Sabtu pagi (19 Maret). Dari hasil tes lab, kadar CA-125 berada di atas normal, dan Hemoglobin berada di bawah nilai normal.
hasil lab 1
hasil lab 2

hasil lab 3
hasil lab 4
rincian biaya lab Pramita
Kami menanyakan total biaya operasi, hanya untuk jaga-jaga bila seandainya tidak dicover asuransi. Berikut ini rincian biaya operasi sekaligus perbandingan bila mengambil kamar kelas 1 (sekamar untuk dua pasien) dan kelas VIP (sekamar hanya satu pasien).

estimasi biaya laparascopy
Kami berencana mengambil kamar kelas VIP dengan pertimbangan karena istri tidak ingin terganggu dengan kehadiran pasien lain terutama saat paska operasi yang butuh ketenangan lebih, saya dan mama mertua juga akan selalu menemani setiap malamnya sehingga butuh privasi dan kenyamanan. Tentunya asuransi tidak akan mengcover seluruh biayanya karena plafon istri hanya di kelas 1 atau maksimal Rp 700,000 per malam.

Total investasi = Rp 3,105,900
Biaya di rumah sakit:
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000
Print USG transvaginal = Rp 388,000
Disposible USG = Rp 1,300
Penjualan resep farmasi rawat jalan (2 tablet Gastrul 200 mcg) = Rp 28,600

Biaya di luar rumah sakit:
Biaya tes lab di Pramita = Rp 2,303,000

Thursday, January 21, 2016

Haid saat umroh ke Mekkah

Bila mengikuti beberapa siklus haid terakhir yang berkisar antara 33 sampai 38 hari, seharusnya istri sudah haid sekitar tanggal 7 sampai 12 Januari. Namun karena istri ingin berangkat umroh tanggal 19 Januari besok. Jadi pada hari Sabtu (9 Jan) kami datang konsultasi ke dokter kandungan di RS Hermina Galaxy.

Istri juga sekalian mau tes papsmear karena terakhir kali tes sudah dua tahun yang lalu. Kami bertemu dengan dr. Bintari Puspasari SpOG, setelah menceritakan bahwa istri ingin datang haidnya kalau bisa dipercepat, maka dokter meresepkan obat Primolut N 5 miligram sebanyak 5 tablet yang mulai diminum malam itu, konsumsi obat dihentikan bila haid sudah datang.

Setelah obat habis di hari kelima (Kamis, 14 Jan) istri masih belum haid. Dari beberapa blog yang saya baca ada yang menjelaskan kalau cara kerja obat ini bagai dua sisi mata uang yaitu membendung haid agar tidak keluar (selama tetap mengonsumsinya) dan mengeluarkan haid sekitar 2 atau 3 hari setelah stop mengonsumsinya.

Terbukti hari Sabtu pagi (16 Jan) istri dapat haid. Biasanya haid berlangsung antara 6 sampai 8 hari jadi perkiraan selesai haid jatuh di tanggal 21 sampai 23 Jan, padahal istri sudah harus pergi umroh 19 Jan. Jadi sabtu sore kami kembali ke RS Hermina Galaxy. Kami sekalian mengambil hasil tes papsmear istri yang alhamdulillah hasilnya normal, disarankan tes lagi 1 atau 2 tahun mendatang.

Kami kembali menemui Dr. Bintari SpOG, untuk mempercepat masa haid beliau meresepkan obat Microgynon (sebanyak 1 kotak isi 28 tablet diminum sehari sekali) untuk mengatur siklus haid dan Transamin 500 miligram (sebanyak 6 tablet diminum 2x sehari) untuk menghentikan pendarahan. Keduanya mulai dikonsumsi di hari ketiga haid (18 Jan).

Microgynon merupakan pil KB, sebenarnya kami agak takut karena kami ingin punya momongan secepatnya, namun dokter menenangkan bahwa efek kerjanya hanyalah di siklus saat mengonsumsi pil tersebut saja. Karena insya Allah setelah istri pulang umroh, istri akan melanjutkan rencana operasi LOD yang tertunda.

Selasa pagi (19 Jan) saat saya mengantarkan istri ke bandara Soekarno Hatta, istri merasakan haidnya keluar tinggal sedikit.

catatan: haid tanggal 16 Januari s/d 20 Januari (siklusnya 43 hari dari haid sebelumnya tanggal 5 Des 2016), perkiraan masa subur di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 26 Jan s/d 4 Feb.


Total investasi = Rp 517,500
Biaya di rumah sakit:

Paket papsmear (9 Jan) = Rp 290,000 (include biaya konsultasi Rp 160,500 dan biaya tes laboratorium Rp 129,500)
Obat Primolut N 5 mg (5 tablet) = Rp 30,500
Biaya konsultasi dokter kandungan (16 Jan) = Rp 150,000
 

Biaya di luar rumah sakit:
Obat Microgynon (1 kotak isi 28 tablet) = Rp 25,000
Obat Transamin (6 tablet) = Rp 22,000 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

[..update] Karena konsumsi obat Microgynon yang kadang terlewat, siklus haid istri jadi kacau. Berikut ini kronologisnya:

18 Jan (haid hari ketiga) istri mulai konsumsi obat Microgynon.
20 Jan haid istri sudah berhenti total, tepat saat dia mulai beribadah di Masjid Nabawi.
28 Jan istri sudah selesai umroh dan telah tiba kembali di Jakarta, obat Microgynon masih tersisa jadi masih lanjut diminum terus setiap pagi sampai habis.
29 Jan pagi istri masih minum, siangnya pergi dari Meruya ke rumah di Bekasi, obatnya tertinggal.
30 & 31 Jan tidak minum obatnya. Tanggal 31 malam muncul bercak darah sedikit berupa flek.
1 Feb, sudah di Meruya dan kembali rutin minum obat. Fleknya sudah berhenti.
6 Feb pagi istri masih konsumsi obatnya, pulang ke Bekasi namun obatnya ketinggalan di Meruya lagi.
7 Feb tidak konsumsi obat.
8 Feb, sudah di Meruya dan kembali rutin minum obat, namun siangnya kembali keluar darah banyak, tidak kental dan tidak sakit (beda seperti haid normal). Namun keesokan harinya istri yakin kalau ia memang sudah haid. Siklus kali ini jaraknya lebih pendek dari yang biasa. Obat Microgynon masih sisa dan sudah tidak dikonsumsi lagi.

catatan: haid tanggal 8 Februari s/d 14 Februari (siklusnya 24 hari dari haid sebelumnya tanggal 16 Januari), perkiraan masa subur di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 18 Feb s/d 27 Feb.