Friday, July 1, 2016

Inseminasi yang ketiga

Jumat pagi (1 Juli) kami sudah tiba di Omni Pulomas, langsung menuju ke ruang VK di lantai dua (VK adalah singkatan bahasa Belanda yaitu Verlos Kamer yang artinya ruang bersalin).

Ini adalah inseminasi ketiga kami, dua inseminasi sebelumnya dilakukan sebelum operasi LOD, dan inseminasi ketiga ini merupakan inseminasi pertama kalinya paska operasi LOD yang tentunya perjalanan sperma menuju ovum istri akan lebih mudah insya Allah, karena isi dalam reproduksi istri sudah banyak yang "direparasi" oleh dr. Caroline.

Kami dijadwalkan tiba jam 6 pagi namun kami telat datang dan baru tiba jam 6.30. Di ruang VK saya diberikan wadah untuk menampung sperma. Jam 7.30 saya menyerahkan sperma yang sudah ditampung, butuh waktu sekitar 3 jam untuk proses mencuci dan memilah sperma, jadi kami menunggu lumayan lama di sini.

Hasil analisa sperma saya, konsentrasinya sebanyak 58 juta/ml dengan motilitas gerak cepat 7% dan gerak lemah 56%. Setelah dipreparasi, konsentrasinya menjadi 28 juta/ml dengan motilitas gerak cepat 96% dan gerak lemah 4%.

hasil analisa sperma
Jam 11 kami kembali masuk ke ruang VK, dr. Caroline mulai melakukan tindakan inseminasi pada istri jam 11.30, setelah itu istri masih diharuskan berbaring selama 1 jam, dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala supaya sperma dapat tertampung optimal di rahim.

Jam 12.30 istri sudah boleh bangun. Jam 1 siang kami sudah bisa pulang. Istri disarankan tidak melakukan aktivitas berat yang terlalu melelahkan, dan dalam 5 hari ke depan kami disarankan tetap berhubungan intim karena masih masuk dalam masa subur istri.

Mulai malam ini istri minum obat Utrogestan 200 mg dengan dosis sehari 2x selama 15 hari ke depan. Istri masih memiliki sisa obat ini dari sepupunya yang sudah lebih dulu hamil dan sisa obat istri yang dulu tidak lanjut diminum karena sudah haid, totalnya masih 25 butir, kurang 5 butir dari yang seharusnya

Total investasi = Rp 2,896,608
Biaya di rumah sakit:
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Paket inseminasi = Rp 2,825,000
Penjualan resep farmasi rawat jalan = Rp 36,608

Wednesday, June 29, 2016

Persiapan insem kembali

Bulan ini sudah memasuki bulan Ramadhan 1437 Hijriah. Jumat (17 Juni) istri haid, siklusnya 33 hari dari haid sebelumnya. Selesai haid tanggal 23 Juni, istri kembali puasa 24 Juni, jadi bolong puasanya 7 hari.

Memasuki haid hari ke-2 istri mulai mengonsumsi obat Genoclom 50 mg sebanyak 3 kali sehari (diminum per 8 jam setelah makan) selama 5 hari ke depan, dan suntik Gonal-f setiap jam 5 pagi dengan dosis 75 IU per hari selama 8 hari ke depan.

Senin sore (27 Juni) tepat di haid hari ke-11 kami datang kontrol ke Omni Pulomas. Saat di-USG terlihat sel telur istri ada beberapa yang ukurannya lumayan di sebelah kiri indung telur, ada 4 ovum yang berukuran sekitar 14 mm s/d 17 mm, sedangkan yang di indung sebelah kanannya kosong. Dari keempat ovum tersebut, dua yang terbesar berukuran 17,6 mm dan 18,2 mm.

Karena dr. Caroline sedang tidak enak badan, beliau jadi tidak terlalu banyak bicara untuk menjelaskan. Kami diminta datang kembali esok sore untuk melihat apakah ovum tersebut masih bisa berkembang ke ukuran yang lumayan.

Esok sorenya (Selasa 28 Juni) kami kembali bertemu dr. Caroline yang sudah sehat kembali, setelah di-USG terlihat sel telurnya kini rata-rata sudah berukuran 17 mm yang berarti bisa dilanjutkan untuk proses inseminasi.

Saya menanyakan kemana ovum berukuran 18 mm yang kemarin terlihat di USG, dr. Caroline menjelaskan bahwa bentuk ovum tidak semuanya bulat sempurna melainkan ada juga yang lonjong, jadi waktu kemarin dia menarik garis hitungan di layar USG mungkin dari bagian oval yang terpanjang yaitu 18 mm, sedangkan bagian oval yang terpendek hanya 16 mm, jadi rata-ratanya ukurannya 17 mm.

Istri diminta untuk menyuntikkan Ovidrel 250 mcg hari Rabu (29 Juni) jam 8 malam, dan dijadwalkan untuk insem Jumat pagi (1 Juli).

Saya menanyakan tentang pelumas yang biasa digunakan untuk berhubungan intim, dr. Caroline menyarankan sebaiknya tidak usah digunakan karena bisa menghambat pergerakan sperma, meskipun di pelumas tersebut tertulis bukan alat untuk kontrasepsi.

Total investasi = Rp 1,180,600
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan (27 & 28 Juni) @ Rp 35,000 = Rp 70,000
Jasa dokter rawat jalan (27 Juni) = Rp 350,000

Jasa dokter rawat jalan (28 Juni) = Rp 400,000
USG transvaginal tanpa print (27 & 28 Juni) @ Rp 179,000 = Rp 358,000
Disposible USG (27 & 28 Juni) @ Rp 1,300 = Rp 2,600

Thursday, May 26, 2016

Melewatkan insem di siklus kali ini

Senin (16 Mei) istri haid, siklusnya 29 hari dari haid sebelumnya.
Haid hari kelima (20 Mei) istri ke Pramita Kebon Jeruk untuk tes lab CA-125 dan AMH paska operasi. Hasilnya sudah jauh menurun dari yang sebelum operasi, nilainya sekarang sudah berada di batas normal.

Hasil CA-125 nilainya 28 U/mL, di bawah nilai rujukan yang kurang dari 35 U/ml. Hasil AMH nilainya 4,66 ng/mL yang menunjukkan hasil Normo-responder (nilai rujukan 1,2 - 4,6 ng/mL). Nilai AMH ini menunjukkan persediaan sel telur istri masih mencukupi.
hasil tes lab CA-125 & AMH
biaya tes lab CA-125 & AMH

Istri mengonsumsi obat Genoclom 50 mg tiga kali sehari sejak haid hari kedua sampai lima hari ke depan. Namun sayangnya karena dana kami sedang terbatas, kami tidak membeli obat Gonal-f yang seharusnya disuntik sejak haid hari kedua sampai 8 hari ke depan dengan dosis 75 IU/hari.

Hasilnya sudah bisa ditebak, saat kami datang kontrol ke Omni Pulomas (Kamis, 26 Mei) di USG terlihat sel telur istri tidak ada yang berkembang ke ukuran normal di hari ke-11 paska haidnya.

Dr. Caroline menjelaskan, operasi LOD hanya membantu memperbaiki anatomi reproduksi istri sehingga sperma jadi lebih mudah menuju sel telur, sementara hormon penyebab PCO tidak bisa sepenuhnya dihilangkan. Terlebih istri tidak menyuntik obat Divalin paska operasi, sehingga kondisi PCO bisa datang kembali lebih cepat, dibanding yang disuntik Divalin bisa bertahan paling tidak sampai 6 bulan ke depan sampai PCO-nya mulai datang kembali.

Jadi 3 bulan paska operasi LOD ini merupakan golden period bagi kami yang ingin langsung mengebut program hamilnya. Kami merasa menyesal telah melewatkan insem di siklus kali ini yang kini sudah melewati 2 bulan paska operasi.

Rencana selanjutnya adalah kami akan insem dengan resep obat yang sama seperti yang seharusnya kami ambil sekarang yaitu:
  • [h+2] minum Genoclom 50 mg (3x sehari selama 5 hari)
  • [h+2] suntik Gonal-f 75 IU (1x sehari selama 8 hari)
  • [h+10/h+11] USG ukuran sel telur
Total investasi = Rp 6,691,250
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 400,000

USG transvaginal tanpa print = Rp 179,000
Disposible USG = Rp 1,300 
Penjualan resep farmasi rawat jalan (15 tablet Genoclom 50 mg) = Rp 235,950
 

Biaya di luar rumah sakit:
Biaya tes lab di Pramita = Rp 1,290,000
2 buah Gonal-f (Pen) 300 IU @ Rp 2,275,000 = Rp 4,550,000 

Monday, May 2, 2016

Kontrol h+15 (tidak jadi inseminasi)

Senin malam (2 Mei) kami datang kontrol kembali saat istri haid di hari ke-15, setelah di-USG terlihat hanya ada satu sel telur yang bertambah besar menjadi berukuran 17 mm, sedangkan dua yang lainnya tidak berkembang.

Kami memutuskan tidak melanjutkan rencana insem di siklus ini, jadi dokter hanya menyarankan kami berhubungan secara alami saja.

Dr. Caroline kembali meresepkan obat yang harus dikonsumsi istri untuk rencana insem di siklus berikutnya yaitu Genoclom 50 mg (15 tablet) dan Gonal-f (Pen) 300 IU sebanyak 2 buah.

Dosis Gonal-f ini ditambah dari yang sebelumnya 75 IU per hari selama 4 hari menjadi untuk 8 hari.

Selain itu dokter juga meminta istri untuk kembali tes lab (antara haid hari ke-2 sampai ke-5) untuk mengetahui kadar AMH dan CA-125 paska operasi LOD.

Jadwal yang akan dijalani istri saat haid nanti:
[h+2] minum Genoclom 3x sehari (selama 5 hari) & suntik Gonal-f 75 IU per hari (selama 8 hari)
[antara h+2 s/d h+5] tes lab ke Pramita
[h+10/11] kontrol kembali untuk di-USG ukuran sel telurnya

Bila dengan dosis Gonal-f 75 IU/hari selama 8 hari nanti sel telurnya berkembang bagus namun tetap belum berhasil hamil setelah insem, maka istri dapat melakukan insem lagi berikutnya dengan dosis yang sama.

Kami menanyakan tentang biaya bayi tabung dengan dr. Caroline sebesar Rp 60 juta sudah include semua termasuk obat & tindakan.

Total investasi = Rp 801,250
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000

USG transvaginal tanpa print = Rp 179,000
Disposible USG = Rp 1,300 
Penjualan resep farmasi rawat jalan (15 tablet Genoclom 50 mg) = Rp 235,950
 


Biaya di luar rumah sakit:
2 buah Gonal-f (Pen) 300 IU @ Rp 2,275,000 = Rp 4,550,000 (belum dibeli)

Monday, April 18, 2016

Kontrol h+11 sebelum inseminasi

Senin 18 April 2016 istri haid (siklusnya 34 hari dari haid sebelumnya tanggal 16 Maret), perkiraan masa suburnya di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 28 April s/d 7 Mei.

Kali ini jaraknya tidak terlalu jauh (hanya 34 hari) dan sepertinya paska operasi LOD siklus haid istri ini sudah bisa dibilang normal kembali, mengacu pada informasi yang saya kutip berikut ini:

" siklus menstruasi dihitung dari hari pertama haid terakhir hingga hari pertama haid berikutnya, di wanita normal pada umumnya memiliki siklus 21-35 hari dan menstruasi berlangsung selama 2-7 hari "

Istri mulai mengonsumsi obat untuk memicu pematangan sel telur dengan jadwal berikut:
[h+3] minum Genoclom 3x sehari (selama 5 hari)
[h+6] suntik Gonal-f 75 IU per hari (total 300 IU selama 4 hari)

Di h+11, kamis malam (28 April) kami menemui dr. Caroline, saat di-USG terlihat sel telurnya masih belum terlalu bereaksi terhadap obat tersebut. Hanya terdapat 3 telur yang bisa dikatakan matang dengan ukuran sekitar 12 s/d 13 mm. Seharusnya di h+11 ini ukuran standarnya 18 s/d 19 mm.

Kami diminta datang kontrol kembali di h+15 untuk melihat perkembangan lanjutannya.

Total investasi = Rp 565,300
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000
USG transvaginal tanpa print = Rp 179,000
Disposible USG = Rp 1,300

Tuesday, April 5, 2016

Rencana inseminasi kembali

Selasa malam (5 April) kami kontrol untuk mengecek kondisi jahitan istri, plester anti airnya dilepas dan tidak ada rembesan cairan yang menandakan kalau proses pengeringan lukanya sudah pulih.

Kami mendiskusikan rencana program hamil dengan cara inseminasi, dr. Caroline meresepkan istri obat Genoclom 50 mg sebanyak 15 tablet yang bisa diperoleh di apotek Omni, dan obat yang bisa dibeli di apotek luar dengan temannya yang menjadi distributor obat yaitu Gonal-f (Pen) 300 IU dan Ovidrel 250 mcg.

Setelah memasuki haid hari ke-10 atau ke-11 (h+10/h+11) datang kontrol lagi untuk di USG apakah ukuran sel telurnya memungkinkan untuk proses insem. Bila jadi insem maka ini merupakan inseminasi ketiga kami.

Total investasi = Rp 3,574,950
Biaya di rumah sakit:

Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000
Penjualan resep farmasi rawat jalan (15 tablet Genoclom 50 mg) = Rp 235,950
 

Biaya di luar rumah sakit:
1 buah Ovidrel 250 mcg = Rp 675,000
1 buah Gonal-f (Pen) 300 IU = Rp 2,275,000
8 buah alcohol swab @ Rp 500 = Rp 4,000

Friday, April 1, 2016

Benarkah mitos wanita penyayang kucing jadi sulit hamil?

Saya dan istri sama-sama menyukai kucing, namun istri jauh lebih sayang daripada saya, bila dia melihat kucing kecil atau kucing yang sedang sakit di jalan akan timbul rasa ibanya seperti memberikannya makan atau dibawa pulang untuk diadopsi.

Kucing kami di rumah Bekasi yang dulu awalnya hanya satu ekor kucing betina, kini sudah berjumlah sepuluh lebih. Sedangkan kucing kami di rumah Meruya ada empat ekor kucing kecil jantan yang kami taruh di halaman belakang rumah, selain itu ada juga kucing liar yang suka datang di halaman depan rumah karena istri selalu memberi mereka makan sehingga banyak kucing baru yang berdatangan.

Apa pendapat orang tua kami
Mama mertua yang tinggal di Bekasi sudah lama mengeluhkan jumlah kucing yang sudah terlalu banyak, halaman rumah juga jadi bau karena sisa makanan dan kotoran mereka. Tidak jauh beda dengan keluhan Papi saya di Meruya dengan kehadiran 4 ekor kucing kecil yang ada di halaman belakang rumah.

Ketidaksukaan mereka dikaitkan dengan sulitnya istri untuk hamil karena mereka menganggap virus toksoplasma yang asalnya bisa dari kucing merupakan salah satu penyebabnya. Padahal sebenarnya virus itu juga bisa berasal dari konsumsi makanan yang tidak matang sempurna, atau sayuran mentah yang kurang bersih saat dicuci. Selain itu virus toksoplasma bukan penyebab sulitnya hamil, namun akibatnya lebih ke janin di dalam kandungan yang mana bila nanti lahir akan mengalami cacat bawaan.

Apa pendapat dokter kandungan
Karena alasan itulah mereka meminta kami untuk membuang semua kucing-kucing tersebut. Istri tambah stres setiap kali didesak soal itu. Akhirnya kami berkonsultasi ke dr. Caroline, beliau menjelaskan bila kucing kami dijaga kebersihannya seperti rajin dimandikan dan dikasih makanan yang matang serta kotorannya dibuang pada tempatnya, maka kecil kemungkinan bagi kucing tersebut untuk mengidap virus toksoplasma.

Untuk lebih meyakinkan dan sebagai persiapan sebelum program kehamilan, dokter menyarankan istri untuk tes TORCH. Kami datang ke lab Pramita cabang Kebon Jeruk pada Senin pagi (4 April), dari hasil tes tersebut alhamdulillah ternyata semua hasilnya NEGATIF yang artinya istri terbebas dari segala penyakit Toksoplasma, Rubella, CMV, HSV1, dan HSV2.

Berikut ini hasil tes TORCH istri dan biayanya.
hasil tes TORCH
biaya tes TORCH
Saat istri menjelaskan hasilnya, Papi banyak bertanya tentang beberapa poin IgG yang positif, ini menerangkan bahwa dulu istri pernah terkena virus tersebut namun seiring waktu tubuh istri telah membentuk antibodinya sendiri untuk melawan virus tersebut, terlihat dari poin IgM yang semuanya negatif.

Dokter pun menyarankan bila memang dengan memelihara kucing dapat mempengaruhi psikologis istri menjadi lebih baik maka dapat diteruskan, istri tentu senang sekali mendengarnya.

Apa pendapat dokter hewan
Beberapa hari setelahnya, kucing kami ada yang sakit jadi kami bawa ke dokter hewan langganan kami, drh. Perdanawinata, kliniknya yang berada di jalan Kembang Kerep tersebut hanya melayani pasien kucing saja. Di klinik tersebut kami curhat seputar masalah tokso dengan problem kehamilan.

Dengan masa kerja 20 tahun lebih, beliau tentunya mempunyai banyak cerita seputar pemilik kucing yang menjadi pasiennya. Salah satu yang menarik adalah cerita tentang sepasang suami istri yang sudah 7 tahun menikah namun belum punya keturunan, mereka tinggal dengan beberapa ekor kucing jauh sebelum awal menikah, kondisi kesehatan mereka pun baik, kasusnya sama seperti kami.

Singkat cerita, ibu mertua suami tersebut berniat untuk menjauhkan mereka dan kucing-kucingnya sementara dengan cara dititipkan di rumah ibu tersebut. Awalnya sang istri merasa keberatan dan sangat kesepian terutama di awal 3 bulan pertama. Namun akhirnya istri tersebut ikhlas harus berpisah sementara dengan kucing kesayangannya.

Keajaiban pun terjadi, di bulan ke 4 sang istri telat haid dan cek ke dokter kandungan, hasilnya sang istri POSITIF hamil. Betapa bahagianya mereka, kini mereka boleh kembali memelihara kucing di rumahnya sembari menemani kehamilan sang istri. Kami turut terharu bercampur bahagia mendengarnya.

Dokter kembali menceritakan kisah lain temannya yang seorang paranormal, dia menjelaskan bila kucing dipotret auranya akan terlihat memiliki keunikan tersendiri. Kucing mampu menyerap energi positif pemiliknya, rasa sayang kita yang terlalu berlebihan terhadap kucing jadi tidak tersisa terhadap kebutuhan rasa sayang kita untuk memiliki seorang bayi. Hal ini sama seperti yang dirasakan istri, dia sangat sayang sekali dengan kucing-kucingnya, sampai selalu kepikiran misalnya saat mereka lagi sakit atau saat tidak ada yang memberi makan bila kami sedang pergi jauh.

Penampilan kucing di film pun sering dikaitkan sebagai hewan kesayangan penyihir karena sifatnya yang misterius dan dingin, terutama kucing yang berbulu hitam.

Dari pengalamannya menjadi dokter hewan, beliau menjelaskan bahwa kucing merupakan hewan yang selalu ingin diperhatikan. Kucing merupakan hewan yang lebih loyal terhadap lokasi daripada terhadap tuannya, misalkan kucing diajak jalan-jalan ke tempat baru dan ramai maka mereka akan ketakutan dan bersembunyi, tidak peduli lagi akan kehadiran tuannya. Berbeda dengan anjing yang suka di ajak jalan-jalan, walaupun di lepas jauh di keramaian namun kalau di panggil maka dia akan datang kembali pada tuannya.

Ada beberapa pasiennya yang kucingnya sehat dan terbebas dari tokso namun justru saat pemiliknya dites malah terkena tokso, jadi kucing bukanlah penyebab utamanya penyebaran virus ini. Dokter sendiri mengaku kalau dia juga mengidap tokso namun tubuhnya telah membentuk kekebalan sendiri.

Apa pendapat kami
Mendengar cerita dan masukan dari berbagai pihak tidak serta-merta membuat kami ingin menelantarkan kucing kami. Untuk sementara waktu istri akan berusaha program hamil sambil memelihara kucing namun tetap mengutamakan kebersihan. Kami juga sudah memvaksinasi beberapa kucing kami di Meruya.

Bila sampai beberapa waktu lamanya istri belum kunjung hamil juga, maka terpaksa kami harus berpisah sementara dengan kucing kami. Kami masih mencari tempat adopsi hewan yang layak untuk mereka.

Kami menyarankan bagi kalian yang memelihara kucing maupun hewan lainnya, utamakanlah kebersihan, jagalah kesehatan hewan dengan rutin membawanya ke dokter hewan bila sakit atau untuk divaksin demi kesehatan mereka dan kita juga.

Total investasi = Rp 2,935,000
Biaya tes lab TORCH di Pramita = Rp 2,935,000