Saturday, June 13, 2015

Siklus haid istri selagi menunggu LOD (update 23 September)

Sembari kami masih mengumpulkan dana untuk operasi Laparascopic Ovarian Drilling (LOD) yang insya Allah dananya terkumpul sekitar 5 bulan lagi, kami tetap berhubungan secara alami dan menjalankan pola hidup sehat.

Adapun siklus haid istri yang saya catat adalah:

haid tanggal 8 Juni s/d 13 Juni (siklusnya 39 hari, atau sebulan lebih seminggu), perkiraan masa subur di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 18-27 Juni.

haid tanggal 15 Juli s/d 22 Juli (siklusnya 38 hari), perkiraan masa subur di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 25 Juli s/d 3 Agustus.

haid tanggal 21 Agustus s/d 29 Agustus (siklusnya 38 hari), perkiraan masa subur di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 31 Agustus s/d 9 September.

Bila haid berikutnya bersiklus 37 hari maka akan jatuh di tanggal 27 September (hari Minggu), kami harus kontrol di hadi hari pertama (h+1) namun karena jatuhnya di hari Minggu jadi kami baru bisa kontrol ketemu dokter Caroline hari Senin esoknya, untuk membicarakan rencana LOD.

haid tanggal 23 September s/d 30 September (siklusnya 34 hari), perkiraan masa subur di h+11 s/d h+20 jatuh di tanggal 3 s/d 12 Oktober.

Di siklus haid terakhir ini, kami kembali menunda rencana LOD karena saat ini sedang konsultasi ke pengobatan alternatif, kami akan mencoba untuk dua kali siklus menstruasi istri, bila masih belum berhasil maka kami akan melakukan LOD.

Saturday, May 23, 2015

Tes gula darah dan insulin

Saat kontrol terakhir ke Omni kami meminta saran dokter Caroline untuk mengonsumsi obat Glucophage karena kami baca di forum ibu hamil bisa membantu mengatasi masalah kesuburan istri. Namun sebelum mengonsumsinya, istri disarankan tes gula darah dan insulin.

Jadi, Sabtu pagi (23 Mei) kami menuju lab rujukan dokter Caroline, yaitu Pramita Lab di Matraman, untuk tes ambil darah dan urin istri. Istri disarankan puasa makan 10 s/d 12 jam sebelum pengambilan darah (hanya minum air putih yang masih diperbolehkan). Jam 9 istri mulai ambil darah dan sample urin, prosesnya tidak sampai 5 menit sudah selesai. Hasilnya keluar paling cepat enam jam setelahnya.

Hasil lab-nya sebagai berikut:
  • Glukosa darah puasa = 98 mg/dL, (nilai rujukan < 100, diagnosis Diabetes melitus >= 126)
  • Urin reduksi = negatif
  • Insulin = 5,0 ulU/ml (nilai rujukan 2,6-24,9)
Sabtu berikutnya (30 Mei) kami kontrol ke Omni, datang jam 9 pagi dapat antrian nomor 18, setelah menunggu lama kami baru masuk ruangan jam 11.30. Dokter Caroline menilai hasil lab istri tergolong normal, jadi kami tidak disarankan mengonsumsi Glucophage karena tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap kesuburan istri, kami hanya disarankan menjalankan pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi, berolahraga serta istirahat yang cukup, serta berhubungan intim di saat masa subur istri yaitu hari ke-11 sampai ke-20.

Rencana kami selanjutnya adalah Laparascopic Ovarian Drilling, masih sekitar 5 bulan lagi sembari kami mengumpulkan dananya. Bila nanti sudah siap, kami disarankan datang saat istri haid hari pertama/kedua untuk konsultasi dan bikin janji dengan dokter Caroline.

Total investasi = Rp 758,000
Biaya di rumah sakit:
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000

Biaya di luar rumah sakit:
Tes glukosa puasa (di Pramita Lab) = Rp 38,000
Tes insulin (di Pramita Lab) = Rp 335,000

Saturday, May 2, 2015

Gagal inseminasi kedua

Siklus haid istri yang 30 hari seharusnya jatuh pada tanggal 4 Mei, namun kali ini ternyata maju lebih cepat, siklusnya hanya 28 hari (sejak haid sebelumnya tanggal 4 April), jadi pada hari Jumat (1 Mei) istri sudah haid, alhasil kami ikhlas menerima bahwa inseminasi kedua kami gagal lagi.

Sabtu pagi (2 Mei) kami kontrol ke Omni Pulomas, dokter Caroline hari ini praktek dari jam 9 sampai 12. Kami tiba di sana jam 9, seperti yang sudah kami duga antriannya pasti membludak, kami dapat antrian nomor 36.

Setelah lama menunggu akhirnya jam 12 kami dipanggil masuk ruangan. Dokter sudah menyangka kegagalan insem kedua ini. Kami berdiskusi soal langkah selanjutnya yang ingin ditempuh.

Dokter Caroline memberi alternatif kalau mau lanjut insem lagi bisa dicoba paling tidak sampai 6 kali (dengan dosis maksimal yaitu Gonal-f 900 IU untuk disuntik selama 9 hari seperti insem kedua kami), alternatif kedua adalah bayi tabung. Kami jujur pada dokter bahwa kondisi keuangan kami saat ini sudah menipis mengingat besarnya investasi yang kami keluarkan untuk 2 kali insem ini.

Kami ingin mencoba saran dokter Caroline terdahulu untuk Laparascopic Ovarian Drilling (LOD) sebab selain bisa untuk menurunkan kadar hormon tertentu penyebab PCO namun juga bisa melihat lebih jelas isi dalam kandungan istri jikalau ada masalah dibanding hanya dengan USG dan HSG.

Karena keterbatasan dana saat ini, kami berencana menunda sekitar 6 bulan ke depan untuk mengumpulkan dana operasi LOD tersebut (estimasinya sekitar Rp 44 juta). Kami pun berdiskusi tentang asuransi kantor saya yang menggunakan S*******, dokter menjelaskan kalau operasi untuk masalah kesuburan tidak diganti asuransi. Dokter sebelumnya sempat mendiagnosa kalau istri ada endometriosis yang terlihat dari adanya bercak-bercaknya di dinding perut. Misalkan ada endometriosis ini kemungkinan bisa diganti asuransi, jadi nanti skenarionya adalah operasi LOD sekaligus pembersihan endometriosis.

Kami juga menanyakan tentang khasiat obat Glucophage (nama lainnya obat Metformin) yang kami baca dari beberapa forum ibu hamil, ternyata dokter dengan senang hati menyarankan bahwa obat ini boleh dikonsumsi istri asalkan istri kuat dengan efek sampingnya seperti perut mual.

Dokter menuliskan resep untuk kami beli di luar, yaitu obat Forbetes 500 mg dengan dosis 3x sehari. Namun sebelum mulai meminum obat ini istri disarankan tes gula darah di lab, nanti hasilnya dibawa lagi secepatnya untuk dikonsultasikan dengan dokter Caroline untuk ditentukan langkah terbaik selanjutnya.

Total investasi = Rp 385,000
Biaya di rumah sakit:
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000

Saturday, April 18, 2015

Inseminasi kedua

Sabtu jam 6 pagi ini kami sudah dibuatkan janji dengan dokter Caroline buat proses inseminasi.

Sesampainya di Omni Pulomas, saya langsung ke bagian laboratorium dan diberikan tabung pengumpulan sperma, saya bersama istri dipersilahkan menggunakan kamar inap kelas VIP bernama Teratai di lantai enam.

Jam 7 saya sudah kembali ke lab untuk menyerahkan hasil sperma yang selanjutnya akan "dicuci" untuk dipilih sperma yang terbaik. Kami menunggu sekitar 4 jam, lumayan lama juga yaa, kami habiskan waktu mulai dari sarapan mie ayam bakso di depan Omni, internetan di gadget, sampai tidur-tiduran di ruang tunggu. Akhirnya jam 11 kurang, istri dipanggil ke ruang bersalin lantai dua untuk dimulai tindakan insem.

Sebelumnya saya diberikan fotokopian hasil lab sperma tadi. Konsentrasinya sebanyak 80 juta/ml dimana jumlah ini sangat mencukupi, toleransinya adalah di atas 20 juta/ml. Motilitas gerak cepatnya 5% dan gerak lemah 46%, yang bila dijumlahkan yaitu 51%, nilai ini masih di atas toleransi Normo Zoospermia yaitu 50% lebih. Keterangan tambahan lainnya yaitu Seminal Plasma: volume 3.0 ml (rujukan 2.0-6.0), pencairan 30 menit, konsistensi normal, Ph 8.0 (rujukan 7.2-8.0). Setelah "dicuci" hasilnya sebanyak 40 juta/ml dengan motilitas gerak cepat sebanyak 98% dan gerak lambat 2%.

Jam 11 dokter Caroline keluar dari ruang prakteknya sebentar untuk tindakan insem istri, prosesnya hanya 15 menit, namun saya tidak boleh ikut menunggui di samping istri saat proses ini. Istri agak tegang saat insem kedua ini dibanding yang pertama, dokter mengakui agak kesulitan memasukkan alat penyemprot sperma karena saluran istri yang menyempit, hal ini bisa disebabkan karena tegang atau faktor lain yang harus diselidiki lebih lanjut.

Setelah proses itu istri diminta untuk tetap berbaring selama sejam di kasur yang dikondisikan miring sehingga kaki lebih tinggi dari kepala, nahh kalau yang ini saya sudah boleh masuk ruangan buat menemani istri tiduran sampai sejam.

Jam 12.15 kami sudah diperbolehkan pulang. Selanjutnya saya membeli obat Utrogestan untuk menguatkan kandungan bila kehamilan sudah terjadi, obat ini bisa dibeli melalui kenalan dokter Caroline, dan enaknya bisa buat janji untuk cod ketemuan di lobby Omni Pulomas. Istri diminta mulai minum obat ini 2x sehari, mulai sejak nanti setiap jam 6 malam dan jam 6 pagi untuk 15 hari ke depan.

Untuk memperbesar peluang kehamilan, kami disarankan dokter Caroline untuk tetap berhubungan intim selama 10 hari ke depan dengan siklus jeda selama 2 hari, jadi kami masih punya kesempatan 5 kali lagi untuk berhubungan di masa subur istri ini.

Istri diminta testpack bila sudah telat seminggu, karena jadwal haid istri tidak teratur jadi siklusnya dihitung siklus normal 30 hari, jadi telat seminggunya nanti jatuh pada tanggal 11 Mei. Namun bila telatnya dua minggu harus kontrol ke Omni buat dilihat berhasil tidaknya insem kami kali ini.

Bismillah.. semoga kali ini berhasil ya Allah :)

Total investasi = Rp 3,411,500
Biaya di rumah sakit:
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
Paket inseminasi = Rp 2,825,000
Penjualan resep farmasi rawat jalan = Rp 21,500

Biaya di luar rumah sakit:
2 box Utrogestan 200 mg (1 box isi 15 tablet) @ Rp 265,000 = Rp 530,000

Wednesday, April 15, 2015

Hasil USG setelah treatment Gonal-f 100 IU

Kami harus kontrol di hari ke-11 setelah haid, dokter Caroline mengingatkan sebelumnya bila di h+11 dia sedang tidak ada jadwal praktek maka harus di h+10, tidak boleh dimundurkan di h+12.

Kebetulan h+11 jatuh di hari Rabu, namun karena jadwal prakteknya hanya ada di pagi hari (jam 9-12) jadi saya cuti setengah hari kerja untuk mengantarkan istri kontrol ke Omni Pulomas.

Kami tiba di sana jam 8 pagi, ternyata kami sudah dapat antrian nomor 4. Dokternya datang telat, baru mulai jam 10, akhirnya kami baru masuk ruangan jam 10.30.

Istri langsung diperiksa USG untuk melihat perkembangan sel telurnya, di indung kiri ada banyak telur namun kebanyakan ukurannya masih kecil, sedangkan di indung kanan terdapat dua sel telur yang ukurannya sudah lumayan besar, sekitar 19 mm.

Ukuran sel telur setelah treatment kedua ini lebih baik dibanding sebelumnya yang ukurannya hanya sekitar 15 mm. Dokter menjelaskan ukuran standar sel telur di hari ke-11 ini sekitar 19 mm, hal ini membuat kami bahagia, semoga kesempatan kedua ini berhasil bagi kami.

Istri diminta untuk menyuntikkan Ovidrel besok Kamis (16 April) jam 8 malam. Sabtu besok (18 April) kami dijadwalkan untuk inseminasi, saya diharuskan puasa mengeluarkan sperma minimal dua hari sebelum hari Sabtu besok.

Total investasi = Rp 556,863
Biaya di rumah sakit:
Jasa dokter rawat jalan = Rp 350,000
Administrasi rawat jalan = Rp 35,000
USG transvaginal tanpa print = Rp 168,000
Disposable USG = Rp 3,863

Saturday, April 4, 2015

Mulai suntik gonal-f 900 IU & minum Genoclom

Sabtu pagi ini (4 April) istri haid, siklus kali ini sepanjang 43 hari sejak terakhir haid 21 Februari lalu.

Besok Minggu sudah masuk haid hari kedua (h+2) jadi istri mulai suntik Gonal-f dengan dosis 100 IU per hari selama 9 hari ke depan, dan juga minum Genoclom dua kali sehari (pagi & malam) selama 5 hari ke depan.

Istri suntik Gonal-f setiap jam 8 malam. Walaupun sudah pernah menyuntik Gonal-f sebelumnya, namun kami tetap menonton panduannya di youtube, karena ada sedikit perbedaan menyuntik Gonal-f yang 100 IU dengan yang 75 IU.

Friday, March 27, 2015

Telat seminggu namun masih negatif

Siklus kali ini kami mencoba cara alami tanpa bantuan obat apapun, hanya mengonsumsi makanan bergizi dan berhubungan di saat subur.

hasil tespack negatif
Hari ini istri sudah telat haid seminggu dari sejak haid terakhir bulan lalu (21 Feb), tadi pagi istri menggunakan testpack Sensitif untuk memastikannya, namun hasilnya masih negatif. Lagipula memang normalnya istri memiliki siklus telat sekitar satu sampai dua minggu, jadi kami tidak terlalu banyak berharap di siklus kali ini.